Aku sakit…
Aku tak tahu sebabnya…
Tapi rasa ini terlanjur luka,
semoga bisa sembuh dengan sendirinya.
Aku tak tahu dimana harus kucari obatnya
aku hanya bisa merasa, dan menikmatinya…
Mei 27, 2009
April 25, 2009
Teringat panggilan itu kira-kira 10 tahun yang lalu, ketika masih duduk di bangku SMP, dan bahkan aku dulu pernah punya e-mail bertajuk missrain_faith, tapi sekarang sudah terblokir karena nggak pernah digunakan lagi. Alasannya karena dulu aku sering mengharapkan datangnya hujan, dan seringnya sih terjadi. Membuat beberapa sahabatku berkata, “Miss Rain…”.
Betapa cintanya aku dengan fenomena alam bernama hujan itu, dipandang dari berbagai sisi hujan itu selalu nampak romantis buatku. Padahal, yang terjadi malah sering menjengkelkan banyak orang. Apalagi ketika jam sudah hampir menunjukkan pukul 5 dan si rintik air masih setia turun dari langit, wajah-wajah kesal orang yang nggak bawa payung pun akan jamak terlihat. Belum lagi yang baru mencuci motor atau mobilnya, kemudian membayangkan betapa kotornya sisa-sisa air itu di body kendaraan mereka. Hmm… lucu…
Aku manusia yang terlalu romantis, yang memandang hujan sebagai momen yang sangat indah, apalagi jika merasakannya bersama pasangan tercinta. Hihihi… Sudah 25 tahun usiaku, tapi romantisme itu belum juga pudar. Tapi, sebagai pembelaan, aku baru saja menemukan quotation menarik,
Age is an issue of mind over matter. If you don’t mind, it doesn’t matter.”
— Mark Twain
Jadi, it doesn’t matter kan??? Kalau aku tetap memiliki romantisme masa itu… Aku hanya merasa pandanganku yang sedikit berubah mengenai mengapa aku mencintai hujan. Dulu, semuanya itu semata-mata karena semua adegan romantis yang kubayangkan di otak pemimpiku ini diawali atau diakhiri dengan hujan. Sedangkan saat ini, aku melihat, turunnya air dari kantong-kantong awan itu dapat memberikan kesejukan yang seketika. Aku ingin menjadi hujan, yang tetes demi tetesnya menyegarkan. Hujan yang bersenyawa dengan udara, aku ingin menghantarkan pelangi yang dinanti-nanti banyak mata, tanpa harus menjadi pelangi itu sendiri. Ahhh, terlalu baik hati…
Biarin deh, terserah pendapat orang… Kini aku sedang belajar, mempelajari cara untuk lebih bersabar, untuk lebih bijak dan menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Hingga suatu saat cita-citaku tercapai, aku ingin menjadi hujan… untukku, untuknya, untuk mereka…
April 23, 2009
Aku mengenalnya seumur hidupku, tapi aku tak tahu siapa dia. Aku kenal sifatnya, sifat baiknya yang pemurah, ramah, dan senang membantu orang lain, sifat buruknya yang mudah emosi, tak tahu prioritas dan kadang tidak peka terhadap kebutuhan keluarganya. Tapi benarkah hanya itu sifat yang dimilikinya? Entahlah… Apakah memang yang diucapkannya sama dengan yang ada di hatinya, aku tak yakin…
Aku pernah begitu mengidolakannya, mengagumi semangat dan dedikasinya, yang belum aku bisa kusamai hingga saat ini. Aku mengagumi konsistensinya, dan tak percaya, ternyata begitu banyak yang rela ia korbankan demi mewujudkan visi itu. Bukan berarti aku tak mengaguminya kini, hanya saja aku telah melihat sisi manusianya, bukan hanya sosok idealis yang dulu kupuja. Aku tak ingin menyalahkannya, aku hanya dapat maklum, karena kehidupan punya begitu banyak cara untuk mendidik kedewasaan seseorang, dan mungkin inilah cara yang digunakan oleh-Nya untuk mengajarkan kedewasaan padaku.
Aku ingin mengenalnya lebih dalam, tapi aku tak berani jika ia tak ingin menunjukkannya. Hal itu hanya akan membuatnya luka, dan merasa tak dipercaya. Oleh karena itu aku tetap ada di posisiku, yang menantinya membuka diri. Aku hanya seorang anak, yang berharap, andaikan aku dapat lebih mengenalnya, sebagai seorang ayah. Bukan sebagai seorang guru, atau sebagai seorang politikus, aku hanya ingin mengenalnya sebagai ayahku.
For my father…
April 19, 2009
Iya, pertanyaan itu akhir-akhir ini mengambang di benakku. Aku berpikir, sepertinya banyak doa sudah kupanjatkan, baik doa permohonan maupun doa syukur, dan banyak berdoa menurutku artinya banyak ngobrol dengan Allah. Aku menceritakan semua pada-Nya, segala hal yang tak dapat kuceritakan kepada orang lain. Tapi hasilnya, KOK GINI???
Aku memohon kebijaksanaan dalam menghadapi segala peristiwa dalam hidupku…
Aku memohon kesabaran dan ketabahan untuk semua cobaan yang kuhadapi…
Aku bersyukur atas keluarga yang kumiliki…
Aku bersyukur untuk seseorang yang selalu mendukung dan menyayangiku…
Aku bersyukur untuk sahabat-sahabat yang senantiasa ada di sampingku…
dan berbagai permohonan serta ucapan syukur lainnya. Namun, apa sih hasilnya???
Sepertinya, aku tak juga semakin bijak, aku masih mudah terpancing emosi dan berkata-kata yang tidak mengenakkan. Sementara keluarga yang aku cintai seperti menjauh, aku kadang membuat orang yang menyayangiku merasa kesal, dan sahabat-sahabatku sepertinya lebih sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Di sore yang harusnya kuhabiskan di gereja ini, aku menggunakan waktunya untuk merenung dan berpikir sendiri. Merenung adalah suatu previlege untukku, yang notabene sudah tak punya ruang pribadi lagi di rumah ini, dan kali ini aku melakoninya di ex-kamarku, di kamar hijau yang sekitar 2 tahun lalu kutempati sebelum pindah ke Surabaya. Hasil dari perenungan yang ditemani aroma sambal goreng dari dapur sebelah ini ternyata lumayan mengejutkanku.
Mengapa doa-doa permohonanku seakan tak dijawab, dan mengapa doa syukurku seakan dimentahkan kembali oleh-Nya? Puji Tuhan aku teringat kembali kata-kata seorang sahabat baikku yang zupper religius, yang mengatakan padaku, Tuhan itu aneh, lucu, dan kadang caranya nggak bisa kamu pahami. Tapi kadang ada juga hal-hal yang sangat logis yang dilakukan-Nya. Menurutku, hal yang sangat logis ini yang terjadi padaku saat ini.
1. Aku memohon kebijaksanaan pada-Nya. Dikirimkanlah permasalahan yang membuat aku berpikir, mengolah kembali berbagai aspek dalam kehidupanku, sehingga permasalahan tersebut dapat aku selesaikan satu per satu dengan baik. Kubayangkan saja, pada suatu hari yang cerah, CLING!!! datanglah roh kebijaksanaan itu, dan jadilah Prita manusia yang bijaksana. Hmmm, mungkin aku akan menjadi seseorang yang sangat menyebalkan dan tidak manusiawi.
2. Aku memohon kesabaran dan ketabahan pada-Nya. Tak diragukan lagi, ia mengirimkan padaku quiz-quiz, baik besar maupun kecil, yang menguji kemampuan kesabaran dan ketabahanku. Tanpa kusadari, saat ini batas kesabaranku sudah meningkat, jauh di atas ambang normal yang selama ini aku miliki. Meski kadang gejolak di dada itu tetap ada, rasa ingin menang dan tak ingin tampak bodoh, tapi setidaknya saat ini aku menyadari, betapa pentingnya pengendalian diri itu aku miliki, sehingga aku bisa mendapatkan hikmah di balik semua perkara.
3. Aku bersyukur atas keluarga yang aku miliki. Aku mencintai keluargaku, kedua orang tuaku, nenek dan kakekku, adikku… Mereka adalah harta yang ingin selalu aku jaga. Tuhan mungkin bertanya-tanya, tuluskah cintaku kepada mereka, sejauh mana rasa cinta itu kumiliki? Apa yang terjadi jika keluargaku mengatakan hal-hal yang menyakitkan tentangku? Masihkah aku mencintai mereka? Hingga saat aku menulis di blog ini, setelah siang yang cukup menegangkan setelah berdebat dengan ibuku, aku masih mencintai mereka. Aku akan tetap selalu bersyukur untuk keluarga yang aku miliki.
4. Aku bersyukur untuk seseorang yang selalu mendukung dan menyayangiku… Tuhan tahu aku juga menyayanginya, dan seringkali aku belum mampu menunjukkannya. Tuhan bertanya, apa sih yang aku rasakan jika seseorang mengesalkanku? Ia menunjukkanku reaksinya, reaksi seseorang yang aku kecewakan. Mungkin Tuhan ingin aku paham benar, bahwa kekecewaan itu terasa lebih menyakitkan jika dilakukan oleh orang yang kita sayangi. Maka aku tetap bersyukur dan berusaha menjadi seseorang yang tak akan mengecewakannya.
5. Aku bersyukur untuk sahabat-sahabat yang senantiasa ada di sampingku. Dan bila mereka tak ada di sampingku, benarkah mereka tak lagi menyayangiku sebagai sahabat? Tentu saja tidak. Ternyata meskipun mereka tak benar-benar ada di sampingku, mereka tetap memberiku tempat di hati mereka. Setiap SMS yang dijawab, setiap email yang dibalas, semuanya mengingatkanku, bahwa meskipun mereka tak ada disini, mereka akan selalu ada untukku. Aku akan tetap mensyukuri semua sahabat yang telah dikirimkan Tuhan untukku.
Naaah, begitulah hasil kontemplasiku di sore yang berhujan ini, menjawab pertanyaan yang mengambang di otak selama ini…KOK GINI??? Ternyata bisa juga terjawab dengan, OOOWWW, TERNYATA GITUUU… Semoga bisa selalu menjawab keraguanku akan DIA yang memang lucu, aneh dan kadang menyebalkan itu, hehehe… Thanks Lord, I will always have YOU by my side, inside my heart…
Maret 27, 2009
Entah mengapa, tiba-tiba siang ini, aku merasakan tusukan tajam di kepalaku, seperti yang biasa kualami kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan pikiran-pikiran yang berseliweran di otakku. Aku diam, dan menyadari bahwa betapa menyedihkannya pikiranku ini. Melintas sebuah pertanyaan di kepalaku: Cukupkah aku?
Cukupkah aku menjadi seorang anak yg berbakti?
Cukupkah aku menjadi seorang perempuan yang mencintai?
Cukupkah aku menjadi pekerja yang baik?
Cukupkah aku menjadi seorang sahabat yang mau mendengarkan?
Cukupkah aku menjadi seorang kakak yang melindungi?
Cukupkah aku menjadi hamba yang baik bagi-Nya?
Cukupkah aku berharga untuk menjadi seseorang yang dicintai?
Pertanyaan-pertanyaan itu yang terus menerus berputar di kepalaku, membuat tusukan-tusukan itu semakin dalam dan membuat jawabannya menjadi semakin menyakitkan.
Aku belum cukup baik menjadi seorang anak dalam keluargaku. Aku masih ragu…
Aku belum cukup baik menjadi perempuan yang mencinta. Aku masih takut menunjukkan seluruhnya… Aku masih takut disakiti.
Aku belum cukup menjadi pekerja yang baik. Kemalasan kadang merenggut semangatku, dan tak mengembalikannya dengan cepat.
Aku belum cukup menjadi seorang sahabat yang baik. Keinginanku untuk mendengar tak lebih karena aku juga ingin didengar.
Aku belum juga menjadi kakak yang baik. Aku masih belum mampu menjadi teladan adik-adikku, dan menuntun mereka dalam kehidupan.
Aku belum menjadi hamba yang baik. Aku masih melalaikan perintahnya dan menjadi pendosa.
Aku TIDAK TAHU… Cukup berhargakah aku untuk dicintai…
Aku kadang merasa lelah, kenapa sih keinginan untuk bercerita ini muncul ketika suasana menekan itu datang. Padahal maksudku bukan untuk membagi derita. Hmmm… tapi kurasa aku sudah cukup egois untuk membagikan kisah sedih ini kepada semua orang